Welcome to the blog that "full feeling" . given that they need from what we have, and begin to share for the welfare of others

..blog to share of sense

Jumat, 16 Desember 2011

Pedoman "SESORAH" (Pidato Bahasa Jawa)

(Disertai contoh Teks Sesorah Bahasa Jawa)

Kita sering mendengarkan dan memperhatikan pidato. Kadang di benak kita juga muncul anggapan (atau mungkin semacam tuduhan) bahwa pidato seseorang hanya meniru pidato dari orang lain. Apalagi bila kita mendengar istilah atau rangkaian kalimat yang digunakan dalam pidato seseorang itu hampir sama atau bahkan sama persis dengan istilah atau rangkaian kalimat yang digunakan orang lain. Dari urutan konsep atau sistematikanya sampai dengan susunan tata bahasa yang digunakan saat pidato hampir sama antara satu orang dengan orang lain. Ya, kalau demikian memang sekilas orang melakukan pidato hanya saling meniru. Tapi BENARKAH DEMIKIAN….??
Jawabannya memang ada dua, bisa dijawab BENAR, tapi lebih baik dijawab TIDAK. Kenapa?
BENAR bahwa diantara sekian banyak orang yang bisa melakukan pidato berawal dari menirukan cara pidato orang lain. Bahkan ada orang bisa pidato dengan (terkesan) bagus hanya karena mendengarkan dan menghafal hasil rekaman pidato orang lain.
Tapi sebaiknya tuduhan dalam benak kita itu kita jawab dengan kata “TIDAK BENAR”. Artinya kita menyadari bahwa orang yang bisa dan biasa pidato itu tidak sekedar saling meniru. Kalaupun awalnya ia mampu pidato karena menirukan orang lain, atau karena menghafal hasil rekaman pidato orang lian, akhirnya dalam diri orang itu akan muncul dengan sendirinya pemahaman tentang segala sesuatu yang ada dalam pidato. Yang berarti ia mengetahui dan memahami pedoman tentang pidato.
Jadi pada intinya, bukan masalah dari mana dan bagaimana awalnya kita belajar melakukan pidato, tetapi yang terpenting adalah kalau kita kepingin bisa pidato maka kita harus memahami terlebih dahulu ketentuan apa saja yang harus dipenuhi. Untuk itu, ada baiknya kita pahami bersama apa saja ketentuan yang harus dipenuhi dalam pidato. Kita sepakat saja bahwa pidato yang baik adalah pidato yang disampaikan secara runtut sehingga orang yang mendengarkan mudah menangkap dan memahami maksud pidato yang kita sampaikan. Kita juga sepakat bahwa agar pidato kita bisa runtut hingga memudahkan orang lain memahami, maka kita perlu membuat kerangka urutan materi pidato atau sesorah, yang antara lain sebagai berikut :
1.      Uluk salam / menyampaikan salam
2.      Atur Pambuka / salam pembuka
3.      Nyebat Tamu / menyebut tamu yang hadir
4.      Atur puji syukur sarta panuwun / memanjatkan syukur dan ucapan terima kasih
5.      Wigatining atur / inti pesan
6.      Pengejeng-ajeng lan pangajak /  permohonan dan harapan
7.      Atur panutup / kata penutup
Nah, itulah kurang lebih garis besar yang (harus) ada dalam rangkaian sesorah. Tetapi yang harus diingat bahwa keberhasilan sesorah tidak hanya ditentukan oleh sistematika tersebut, malainkan juga sangat dipengaruhi oleh diri pribadi kita. Bagaimana seseorang harus bersikat ketika ia melakukan sesorang. Perlu kita pahami bahwa ketika kita berpidato atau sedang melakukan sesorah, kita harus bersikap agar mampu menarik perhatian tamu yang hadir atau siapa saja yang berada dalam lingkup acara. Seorang yang melakukan sesorah dituntut mampu berperan dan berpenampilan serta melakukan hal-hal yang dapat menarik perhatian hadirin. Dalam sesorah (pidato), seseorang sangat dianjurkan  mempu memiliki empat “ wa” satu “ba”, yaitu wicara (basa), wirasa, wirama, wiraga  dan busana. Disamping itu, kita juga harus menghindari hal-hal yang menjenuhkan tamu dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan ruang lingkup acara. (Selengkapnya dapat disimak dalam posting sebelumnya, dijelaskan dalam angka 5 dan 6. silahkan Klik disini)

Baiklah, untuk lebih memahami penerapan sistematika atau  patokan sesorah di atas, silahkan simak contoh Sesorah Bahasa Jawa :
1. Contoh Pambagyaharja Ketua dalam Rapat Pemuda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar